Monday, February 6, 2017

Sahabat

Image result for sahabat

Tampak suasana pagi yang lumayan cerah. Seorang gadis duduk seorang diri di teras depan rumah. Gadis yang cantik, Ririn namanya. Jari-jemarinya begitu lincah menari di atas tombol ponselnya. Tiba-tiba, kedatangan seseorang itu cukup membuatnya lumayan terkejut. Clarissa, sahabatnya. Clarissa datang dengan sebuah senyuman yang sangat manis, ia tampak begitu senang bertemu dengan Ririn. Persahabatan yang begitu erat, 3 tahun mereka menjalaninya. Seharusnya ada 1 orang lagi dalam persahabatan mereka, Alina. Tetapi entahlah, kemana Alina saat ini. Yang jelas, Clarissa masih tetap tersenyum bercanda dengan sahabat lamanya itu.

Dengan sekejap, semuanya berubah. Sepasang mata itu tiba-tiba terbuka, dan semuanya telah berbeda, hanyalah sebuah mimpi. Cukup aneh, mengapa Ririn memimpikan sahabatnya itu? Mungkinkah terjadi sesuatu atau hanya perasaan rindu saja yang sedang menghantui? Sebab mereka tak lagi dapat bertemu dan berkumpul setiap pagi, dikarenakan perbedaan sekolah mereka. Belum selesai otak Ririn bekerja, mata telah dikejutkan oleh waktu yang menunjukkan pukul 06.00 pagi. Ia segera mandi dan bersiap-siap berangkat sekolah.

Kring.. kring.. kring.. Bel nyaring itu adalah pertanda bahwa jam istirahat telah tiba. Waktu dimana rata-rata seluruh perut berdemo ingin diisi. Di sebuah meja kantin sekolah, tampak Ririn sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang temannya. Percakapan yang cukup mengasyikkan, ditemani beberapa makanan dan minuman di atas meja. Tiba-tiba.. Dzztt.. Dzztt.. Dzztt.. handphone yang terletak di atas meja itu bergetar. Ririn mengambilnya, tertera nama Alina di layar handphone itu.


“Iya, halo Al. Apa??!! Lo serius? Ya udah gue ke sana sekarang.” ucap Ririn pada Alina. Tampak teman-teman Ririn sedikit kepo mengenai apa yang terjadi. Namun Ririn sama sekali tak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka. Ririn segera pergi dari tempat itu menuju suatu tempat lain.

Tanpa berkata sedikit pun, Ririn terus berjalan tiada henti dengan raut wajah yang begitu cemas dan khawatir. Satu-persatu ruangan telah ia lewati. Hingga akhirnya ia bertanya pada salah seorang pegawai yang memakai seragam khas putih, suster. Menanyakan sebuah ruangan yang tampaknya akan ia kunjungi. Kaki kembali berjalan, hingga ruangan itu telah ia temukan. Tampak seorang wanita berdiri di luar ruangan itu, ialah Alina. Ririn menghampiri Alina secara perlahan. Ia menepuk bahu Alina. Dalam sedetik, Alina memeluk Ririn sambil menangis. Kemudian, mereka masuk ke dalam ruangan secara bersama-sama. Tampak seorang gadis terbaring lemas tak sadarkan diri, lengkap dengan baju ala pasien dan sebuah alat bantu pernafasan. Ia adalah… Clarissa. Clarissa mengalami kecelakaan mobil tadi malam saat ia dalam perjalanan pulang. Air mata Ririn mulai terjatuh saat melihat sahabatnya itu terbaring tak berdaya. Mungkin, ini adalah pertanda dari mimpinya semalam.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Elfa Puspita

0 comments:

Post a Comment